Dalam HPT cetakan ke 3 hal 170 disebutkan cara menentukan awal berpuasa :

  1. Bila kamu menyaksikan datangnya bulan Ramadhan, dengan melihat bulan
  2. Persaksian orang yang adil
  3. Dengan menyempurnakan bulan sya’ban tiga puluh hari
  4. Dengan Hisab

Selain alternatif keempat sebenarnya tiga yang pertama termasuk kategori rukyat. dengan demikian, pada awalnya ada dua cara yang ditempuh Muhammadiyah dalam menetapkan awal Ramadhan dan awal syawal, yaitu dengan rukyat dan hisab. ini ditegaskan dalam HPT hal 291, yaitu berpuasa dan Idul Fitri itu dengan rukyat dan tidak berhalangan dengan hisab. Implementasi dari HPT itu maka dalam sejarah penetapan bulan qomariyah di Muhammadiyah telah mengalami perubahan-perubahan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang astronomi. yang terakhir, Muhamamadiyah menggunakan hisab wujudul hilal.
Sistem ini berlaku sejak tahun 1388 H atau 1968 M sampai sekarang. Bahkan pada Munas Muhammadiyah ke-26 di Padang diputuskan untuk tetap menggunakan kriteria Wujudul Hilal sebagai pedoman penetapan awal bulan Ramadhan, syawal dan Dhulhijjah sebagaimana bulan-bulan yang lain dalam kalender qomariyah. Dengan catatan, Bilan Indonesia terbelah garis batas tanggal qomariyah dalam arti di sebagian wilayah Indonesia hilal wujud dan sebagian lain masih belum wujud, maka keputusannya diserahkan ke PP Muhammadiyah.

Kutipan dari Majalah Tabligh