Kode etik berasal dari dua kata yaitu kode, yang berarti tulisan (kata-kata, tanda) yang dengan persetujuan mempunyai ari maksud yang tertentu sedangkan etik dapat berarti aturan tata susila, sikap, atau akhlak. Dengan demikian kode etik secara bahasa dapat diartikan ketentuan atau aturan yang berkenaan tentang tata susila dan akhlak.
Selanjutnya kata profesi masuk dalam kosa kata bahasa Indonesia melalui bahasa Inggris (Profesion) atau bahasa Belanda (Professie), kedua bahasa barat ini menerima kata ini dari bahasa latin. Dalam Bahasa Latin kata Profesio berarti pengakuan atau pernyataan.
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas dapat dinyatakan bahwa kata profesi yang kita pergunakan sekarang ini sebenarnya tidak lain dari pernyataan atau pengakuan dalam bidang pekerjaan atau bidang pengabdian yang dipilih. jadi seorang yang mengatakan bahwa profesinya adalah guru maka sebenarnya tidak lain dari pada memberitahukan kepada orang lain pekerjaan yang dipilihnya adalah mendidik dan mengajar.
dalam perkembangan selanjutnya setelah timbul perserikatan-perserikatan atau asosiasi-asosiasi yang mengikat manusia yang sama-sama mengabdikan diri pada suatu jabatan tersusunlah petunjuk-petunjuk lebih lanjut mengenai perilaku yang harus ditaati oleh setiap anggota profesi. Dalam kontek ini, maka istilah profesi dengan sendirinya mengandung muatan kode etik sebagaimana telah disebutkan diatas. Untuk itu terdapat tiga petunjuk dasar mengenai suatu perbuatan profesi sebagai berikut :
Pertama, ditentukan bahwa setiap profesi dikembangkan untuk memberikan pelayanan tertentu kepada masyarakat. Pelayanan itu dapat berupa pelayanan individual, yaitu pelayanan perorangan, tetapi bisa juga pelayanan secara kolektif. Dengan demikian setiap orang yang mengaku menjadi pengemban dari suatu profesi tertentu harus benar-benar yakin bahwa dirinya memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk memberikan pelayanan tadi, setiap saat ia harus sia untuk memperlihatkan atau mendemontrasikan pengetahuan atau keterampilan yang dimilikinya.
Kedua, Bahwa profesi bukanlah sekedar mata pencaharian atau bidang pekerjaan. Dalam kata profesi tercakup pula pengertian pengabdian kepada sesuatu, misalnya keadilan, kebenaran, meringankan penderitaan sesama manusia, da sebagainya. Jadi setiap orang yang menganggap dirinya sebagai anggota suatu profesi harus tahu betul pengabdian apa yang akan diberikan kepada masyarakat melalui perangkat pengetahuan dan keterampilan khusus yang dimilikinya.
Ketiga, setiap bidang profesi mempunyai kewajiban untuk menyempurnakan prosedur yang mendasai pengabdiannya secara terus menerus. Secara tehnis profesi tidak boleh berhenti tidak boleh mandek. Kalau kemandekan teknis itu terjadi untuk profesi dianggap sedang mengalami proses kelayuan atau sedang mati.
Berdasarkan ketentauan diatas kita ketahui sekarang bahwa pengakuan atau claim sebagai profesional, sebagai pengemban profesi membawa kewajiban-kewajiban tertentu. Jika kewajiaban ini diabaikan, maka anggota profesi yang lalai oleh teman-teman sejawatnya dan oleh masyarakat umum akan dipandang melanggar etika profesi. konsekuwensinya ia akan dikucilkan dalam lingkup profesinya.
Jadi kesimpulannya, profesi atau profesionalisme dapat diartikan sebagai pandangan tentang bidang pekerjaan yang menganggap bidang pekerjaan sebagai suatu pengabdian melalui keahlian tertentu dan yang menganggap keahlian ini sebagai sesuatu yang harus diperbaharui secara terus menerus dengan memanfaatkan kemajuan-kemajuan yang terdapat dalam ilmu pengetahuan. Dalam kontek ini maka profesi selain berhubungan dengan kode etik juga bertautan dengan kegiatan akademik. kalau kehidupan akademik bermuara pada diperolehnya kemjuan ilmu pengetahuan, maka kegiatan profesional dimulai dari pemahaman dan pemanfaatan terhadap kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan yang sudah ada. Dan hal ini pula yang merupakan garis pemisah namun sekaligus sebagai titik temu sebagai penghubung antara profesionalisme dan akademisme.