Belum ada di Indonesia sebuah lembaga penelitian yang meneliti tentang pengaruh tayangan kekerasan terhadap perilaku anak. Ini tentu membuat semakin sulit untuk mengatakan bahwa tayangan kekerasan di layar TV berpengaruh terhadap perilaku anak.
Dr. Brandon Centerwall dari universitas Washington dalam sebuah penelitian mengenai dampak tayangan kekerasan pada orang kulit putih di tiga negara, Kanada, Amerika Serikat dan Afrika Selatan menyimpulkan, kekerasan dalam program televisi menimbulkan perilaku agresif pada anak dan remaja yang menonton program tersebut.
Sedangkan Ron Solby dari Universitas Harward secara terinci menjelaskan, ada empat macam dampak kekerasan dari televisi terhadap perkembangan kepribadian anak.
Pertama, dampak Agresor dimana sifat jahat dari anak semakin meningkat, kedua, dampak korban dimana anak menjadi penakut dan sulit mempercayai orang lain, ketiga, dampak pemerhati, disini anak menjadi kurang peduli terhdap kesulitan orang lain, keempat, dampak nafsu dengan meningkatnya keinginan anak untuk melihat atau melakukan kekerasan dalam mengatasi setiap persoalan.
Dalam hal ini peranan orang tua tidak bisa sikap diabaikan orang tua terhdap TV akan mempengaruhi perilaku anak. Maka sebaiknya orang tua lebih dahulu membuat batasan pada dirinya sebelum menentukan batasan bagi anak-anak. Biasanya, dikala lelah atau bosan dengan kegiatan rumah, orang tua suka menonton TV, tetapi kalau itu tidak dilakukan dengan rutin, artinya anda bisa melakukan kegiatan lain kalau sedang jenuh, anak akan tahu ada banya cara beraktifitas selain nonton TV. karena kita tidak bisa menyalahkan pihak TV yang menayangkan kekerasan, karena mereka juga menginginkan TV-nya bisa dilihat banyak orang.
Usahakan TV hanya bagian kecil dari keseimbangan hidup anak. Yang penting, anak-anak perlu cukup waktu untuk bermain bersama teman-teman dan mainannya, untuk membaca cerita dan istirahat, berjalan jalan dan menikmati makan bersama keluarga.
Sebenarnya, umumnya anak sering belajar dengan melakukan berbagai hal, baik sendiri maupun dengan orang tuanya.
Hal penting yang kedua adalah mengikutsertakan anak dalam membuat batasan. Tetapkan apa, kapan, dan seberapa banyak acara TV yang ditonton. Tujuannya agar anak menjadikan kegiatan nonton TV hanya sebagai pilihan bukan kebiasaan. ia menonton hanya bila perlu. untuk itu video kaset bisa berguna, rekam acara yang anda sukai lalu tonton kembali bersama-sama pada saat yang sudah ditentukan. Cara ini akan membatasi, karena ank hanya menyaksikan apa yang ada di rekaman itu.
Masalah bahasa juga perlu diperhatikan agar anak tahu mengapa suatu kata kurang sopan untuk diucapkan, orang tua harus bisa menjelaskan sebagai ungkapan untuk keadaan khusus, terutama di TV untuk mencapai efek tertentu.
Agar sasaran tercapai, disiplin dan pengawasan orang tua mutlak diperlukan. sayangnya unsur pengawasan ni sering jadi titik lemah orang tua. Maka orang tua dituntut cerewet dalam maslaah ini.
Memang kekerasan tidak terpisahkan dari kehidupan, namun kita bisa meminimalisirkan dengan dimulainya dari keluarga.