Mendidik anak merupakan kewajiban bagi setiap orang tua, baik mendidik sopan santun, tata krama, maupun mendidik kedisplinan anak. Dengan harapan anak akan tumbuh berkembang sesuai dengan apa yang di harapkan. Banyak orang tua sekarang mulai beranggapan bahwa proses mendidik itu hanya di sekolah-sekolah atau di tempat-tempat menimba ilmu agama. Sehingga dari mereka lebih mempercayakan proses pendidikan anak kepada lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun nonformal, mulai dari pendidikan usia dini maupun TPQ-TPQ yang ada di daerahnya.
Memang anggapan yang demikian tidak ada salahnya, namun sebagaimana yang diketahui oleh semuanya, pendidikan dasar yang pertama kali yang harus di terima adalah pendidikan di rumah, dimana rumah adalah tempat seluruh aktifitas anak dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali, dan mendidik itu tidak hanya mengajarkan namun juga memberi contoh. Jadi apa yang di lihat, didengar, dirasakan anak merupakan sebuah proses pendidikan yang benar-benar nyata dan dampaknya sangat besar sekali untuk perkembangan anak itu sendiri di kemudian hari. Baru setelah itu lingkungan dimana anak itu tinggal, baik itu lingkungan rumah ataupun lingkungan sekolah tempat anak itu belajar.
Dalam mendidik kedisiplinan terhadap anak….jika anak terlalu dilunak terkadang akan melunjak namun jika terlalu dikeras juga akan berontak, ini yang sering terjadi saat ini.

Di sekolah guru yang sebagai wakil orang tua dilingkungan sekolah, selain berfungsi sebagai pengajar juga berfungsi sebagai pendidik. Dalam mengajar mungkin seorang guru tidak akan menemukan kendala-kendala yang berbenturan dengan hak perlindungan anak karena sudah ada silabus maupun rencana pelaksanaan pembelajaran yang bisa di jadikan acuan oleh seorang guru dalam menjalankan profesinya sebagai seorang pengajar. Selain itu yang ada hanya hak dan kewajiban seorang murid dalam proses kegiatan belajar mengajar. Namun ketika guru menjalankan profesinya sebagai seorang pendidik akan banyak sekali kendala yang dihadapinya, khususnya dalam mendidik kedisplinan.

Jika kembali 10 atau 20 tahun kebelakang seorang guru dalam proses mendidik tidak dikwatirkan oleh pelanggaran-pelanggaran yang berkenaan dengan anak, dimana otoritas kebijakan dalam mendidik dilingkungan sekolah diserahkan kepada pihak sekolah maupun guru meski itu tidak tertuang dalam sebuah peraturan. Namun dengan adanya hak perlindungan anak seolah-olah ada pembatasan dalam proses mendidik, khususnya dalam mendidik kedisiplinan. Dan biasanya mendidik kedisiplinan ada kecenderungan keras terhadap anak, karena didalamnya biasanya ada sanksi-sanksi yang diberikan.

Dan jika ada hak perlindungan anak, apa tidak ada hak perlindungan pendidik yang pada dasarnya mereka juga menginginkan kebaikan untuk peserta didiknya meski terkadang menempuh cara kekerasan untuk mendisiplinkan anak yang jumlahnya terkadang tidak sedikit dan dengan latar belakang yang beragam.