Sebagai bentuk penilaian dari sebuah proses pembelajaran adalah dengan adanya ujian, yang mana untuk mengukur seberapa jauh kemampuan peserta didik dalam bidang studi yang telah diajarkan.

Ujian Nasional yang lebih dikenal dengan istilah Unas ataupun UN merupakan Standart ketercapaian dalam sebuah pembelajaran di sekolah secara nasional. Tapi dibalik pelaksanaan UN, banyak terjadi hal-hal diluar dari tujuan sebuah pembelajaran, terutama untuk pendidikan kejujuran. …

Banyak upaya telah ditempuh untuk menjadikan Ujian Nasional ini dilaksanakan secara jujur tanpa adanya kecurangan-kecurangan sebagaimana yang telah diberitakan di berbagai media massa. seperti Soal yang di buat dengan sistem soal A dan Soal B, Begitu juga tempat duduk juga telah diatur spiral supaya peserta ujian tidak melihat hasil pekerjaan kanan-kiri atau dengan belakang peserta ujian lainnya.

Sistem kepengawasannya pun sudah diatur secara silang lintas Departemen Pendidikan dengan Depag (sekarang disebut: Kementerian Agama). Dengan harapan tidak timbul saling mencurigai antara satu departemen dengan depatemen lainnya. Namun masih saja ada indikasi-indikasi kecurangan dalam pelaksanaannya. Dan itu terasa setelah peserta didik memasuki jenjang pendidikan tinggi berikutnya. Merasa mendapatkan nilai ujian yang tinggi peserta didik mendaftar di sekolah unggulan atau favorit yang penerimaan siswanya berdasar pada hasil Ujian Nasional. Dan ketika proses pembelajaran di sekolah tersebut, kemampuan peserta didik tidak sesuai dengan hasil ujian yang telah dia capai pada saat Ujian Nasional. Sehingga timbul pertanyaan dari guru yang mengajar di sekolah tersebut, “Bagaimana bisa mendapat nilai tinggi, padahal kemampuannya baru segini ?”

Dan biar terjadi hal yang demikian, perlu adanya perubahan khususnya dalam sistem kepengawasan Ujian Nasional. Dimana Pengawas Ujian Nasional di datangkan dari satuan pendidikan di atasnya, untuk UASBN SD pengawasnya dari Guru-guru SMP atau sederajat, UN SMP Pengawasnya dari Guru-guru SMA atau sederajat dan UN SMA pengawasnya dari dosen-dosen Perguruan Tinggi. Meski nanti pada akhirnya masih bergantu kepada kepribadian masing-masing, baik guru/pengawas atau dari peserta ujian itu sendiri.

Karena bagaimanapun juga sebuah proses pendidikan, perlu adanya perbaikan-perbaikan atau inovasi-inovasi yang mengarah pada perbaikan mutu pendidikan khususnya di Indonesia yang kita cintai.


Subscribe in a reader